Kamis, 19 Juni 2008

Korupsi Jadi Bagian Budaya Bangsa



Tanggal : Kamis, 19 Juni 2008
Sumber : Harian Umum Pelita

Pernyataan Wapres : Indikasi Korupsi Jadi Bagian Budaya Bangsa

Jakarta, Pelita
Anggota Komisi III DPR RI Sahrin Hamid, mengatakan pernyataan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla bahwa korupsi di Indonesia sudah terstruktur dan sistematis mengindisikan bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari budaya bangsa. Itu indikasi bahwa korupsi sudah menjadi bagian budaya bangsa. Sebab dilakukan dari atas sampai bawah, dari pejabat sampai yang bukan pejabat, kata Sahrin Hamid kepada Pelita, di Jakarta, Rabu (3/10).

Namun begitu, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga menjabat sebagai Kapolri di Kabinet Bayangan versi DPR menyatakan masih ada harapan untuk memberantas korupsi di negeri ini yang dinilai sudah terstruktur dan melibatkan pejabat. Jika ditanya apa masih ada harapan? Saya kira tentu saja masih ada, katanya. Adapun langkah yang harus dilakukan menurut anak muda yang juga menjabat Ketua Bidang Politik DPP KNPI itu dilakukan dengan cara struktural dan kultural.

Secara struktural, kata Sahrin, dilakukan sejak perumusan peraturan perundang-undangan pemberantasan korupsi sampai dengan implementasinya. Untuk implementasinya, lanjut dia, harus dilakukan dengan beberapa cara. Diantaranya, pertama harus dimulai dari pemimpin pemerintahan tertinggi dengan komitmen dan integritas tinggi yang nyata. Contohnya dengan menyiapkan 100 peti mati dan salah satunya disiapkan untuk dirinya jika dia korup, katanya. Cara kedua, membersihkan penegak hukum dari anasir-anasir korup.\"Bagaimana bisa membersihkan lantai kotor kalo sapunya kotor dan rapuh,\" tandasnya. Yang terakhir (ketiga), harus ada efek jera bagi para koruptor. Efek jera tersebut menurutnya tidak hanya dengan memenjarakan pihak koruptor. Akan tetapi juga dipublikasikan foto koruptor secara reguler sampai dengan selesai masa hukuman.

Sedangkan langkah secara kultural, lanjut Sahrin, dimulai sejak usia dini sampai dengan dewasa. Khusus bagi generasi muda, langkah ini tidak cukup hanya mencela atau mengutuk koruptor. Tetapi harus dipatrikan di dalam kalbu dan tindakan untuk tidak memaafkan koruptor, terangnya. Langkah kultural lain, dilakukan dengan mengucilkan para koruptor dari lingkungan sosialnya sehingga setiap yang korup tidak hanya mendapatkan hukuman di penjara tapi juga di luar penjara oleh masyarakat. Tentunya hanya dengan langkah-langkah revolusionerlah yang bisa membuat jera para koruptor. Kalau tidak, korupsi akan bersemai selama-lamanya, tegasnya.(ay)

Tidak ada komentar: